Categories

Kisah Sahabat r.hum

1.Kisah Rasa Takutnya Abu Bakar رضي الله عنه Kepada Allah SWT

2.Kisah Rasa Takut Umar bin Khathab رضي الله عنه

3.Kisah uang Tunjangan Abu Bakar رضي الله عنه dari Baitul-Mal

4.Kisah Uang Tunjangan Umar bin Khathab رضي الله عنه dari Baitul-Mal

5.Kisah Penderitaan Khabab bin Al-Arat رضي الله عنه

6.Dakwah Abu Hurairah رضي الله عنه kepada Ibunya

7.Akhlak Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dalam berdakwah kepada manusia

8.Kesabaran Ustman bin Affan رضي الله عنه Dalam Menanggung Penderitaan

9.Kesabaran Thalhah bin Ubaidilah رضي الله عنه Dalam Menanggung Penderitaan

10.Sa’ad رضي الله عنه adalah Orang yang Pertama Melempar Panah di Jalan Allah dan Membunuh Tiga Orang dengan Satu Anak Panah

11.Keberanian Mu’adz bin Amr bin Jamuh dan Mu’adz bin Al-Afra’ r.hum Membunuh Abu Jahal pada hari Peperangan Badar

12.Biografi Abu bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه">

13.Meninggalnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Dan Kepemimpinan Abu Bakar رضي الله عنه

14.Pengangkatan Abu Bakar Ash-Sidiq رضي الله عنه Menjadi Khalifah

15.Keberanian Hamzah bin Abdul Mutthalib رضي الله عنه

16.Wasiat Abu Bakar رضي الله عنه kepada Umar رضي الله عنه

17.Kecintaan para Sahabat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم

18.Para Sahabat Melintas Sungai Dajlah

19.Keberanian Az-Zubair bin Al-Awwam رضي الله عنه

20.Wasiat Abu Bakar رضي الله عنه kepada Umar رضي الله عنه


Share/Save/Bookmark
Kisah Shahabat

Diriwayatkan oleh Abu Hasan Al-Athrabulusi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Bidayah : 3/29, dari ‘Aisyah r.ha, ia berkata,”Sejak zaman jahiliyah, Abu Bakar adalah kawan Rasulullah saw. Ketika bertemu dengan Rasulullah saw, dia berkata,”Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi saw), ada apa denganmu, sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain-lainnya lagi?” Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya aku adalah utusan Allah Subhana wa Ta’ala dan aku mengajak kamu kepada Allah swt.” Setelah selesai Rasululullah saw berbicara, Abu Bakar r.a pun langsung masuk Islam. Melihat keislamannya itu beliau gembira, tidak ada seorangpun yang ada diantara dua gunung di Makkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan beliau. Kemudian Abu Bakar r.a menemui Ustman bin Affan, Thalhah bin Ubaidilah, Zubeir bin Awwam, dan Saad bin Abi Waqash r.hum untuk mengajak mereka masuk islam. Lalu, mereka pun masuk Islam. Hari berikutnya Abu Bakar r.a menemui Ustman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Salamah bin Abdul Asad, dan Arqam bin Abil Arqam r.hum juga, untuk mengajak mereka masuk Islam dan mereka semua juga masuk Islam.”

Ibnu Ishaq juga meriwayatkan kisah yang sama, bahwa Abu Bakar r.a menemui Rasulullah saw, lalu berkata,” Wahai Muhammad, apakah benar apa yang telah dikatakan orang Quraisy bahwa engkau telah meninggalkan Tuhan-Tuhan kami dan mengolok-olok kami dan menuduh bahwa nenek moyang kami telah kufur?” Rasulullah saw menjawab,”Ya benar, sesungguhnya Allah swt telah mengangkat aku sebagai Rasul dan Nabi-Nya. Allah swt telah mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Dan sekarang aku mengajakmu kepada agama Allah swt, yaitu agama Islam, dengan keyakinan yang benar. Demi Allah, sesungguhnya Islam adalah kebenaran. Wahai Abu Bakar, aku mengajakmu untuk menyembah Allah swt Yang Maha Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan janganlah kamu menyembah kepada selain-Nya dan taatlah kepada-Nya untuk selamanya.” Setelah itu Rasulullah saw memperdengarkan sebagian ayat Al-Quran. Ketika itu Abu Bakar r.a tidak membenarkannya dan tidak pula mengingkarinya. Namun, tidak lama kemudian ia masuk Islam dan meninggalkan patung-patung serta serta Tuhan-tuhan lain yang dulu disembahnya. Akhirnya, ia pun mengakui dan meyakini kebenaran Islam. Setelah itu, Abu Bakar r.a pulang dengan penuh keimanan dan keyakinan.

Dalam riwayat yang lain disebutkan, dari Muhammad bin Abdullah At-Tamimi, bahwa Rasulullah saw bersabda,”Setiap aku mengajak seseorang untuk masuk Islam pasti mereka ragu, menolak atau berpikir terlebih dahulu. Tetapi, ketika mengajak Abu Bakar, maka dia langsung menerimanya, dia tidak merasa ragu dan tidak menolak sedikitpun atas perkataanku.”

Kalimat “Dia tidak merasa ragu” inilah yang sebenarnya diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq. Sedangkan pada riwayat sebelumnya, yang menyebutkan kalimat “dia tidak membenarkan dan tidak mengingkarinya” adalah tidak benar. Karena Ibnu Ishaq dan para perawi lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah saw setiap waktu selalu bersama Abu Bakar dan mengetahui pasti bahwa beliau saw adalah seseorang yang jujur, berbudi pekerti luhur, selalu memegang amanah, selamanya tidak pernah bohong kepada siapapun. Dengan demikian, adalah sesuatu yang tidak mungkin apabila beliau saw berkata bohong mengenai Allah swt. Karena itu,  ketika Nabi saw menyampaikan kepadanya bahwa beliau adalah utusan Allah swt, maka Abu Bakar r.a langsung membenarkannya, tidak berpikir pikir dahulu, dan tidak merasa ragu.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, sebagaimana disebutkan pula dalam Al-Bidayah:3/26-27, dari Abu Darda’ r.a berkata, “Pernah suatu ketika terjadi pertengkaran antara Abu Bakar r.a dan Umar r.a, maka Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya ketika Allah swt mengutus aku kepadamu (Umar), maka kamu berkata kepadaku,”Engkau berdusta!” Tetapi, ketika itu Abu Bakar berkata kepadaku,”Engkau berkata benar!” Dia juga telah menolong aku dengan jiwa dan hartanya. Dan sekarang, apakah engkau akan menyakiti sahabatku ini?” Setelah kejadian itu tidak ada seorang pun yang berani menyakiti Abu Bakar r.a. Pernyataan Rasulullah saw ini merupakan dalil yang pasti bahwa Abu Bakar r.a adalah seorang yang pertama kali memeluk Islam.”

Umar r.a juga biasa berdagang. Ketika menjadi khalifah, keperluannya dipenuhi dari Baitul-Mal. Ia mengumpulkan rakyatnya di Madinah Munawarah, lalu berkata,“Aku biasa berdagang dan sekarang kalian telah memberiku kesibukan sehingga aku tidak dapat berdagang lagi. Sekarang bagaimanakah dengan mata pencaharianku?“ Orang orang berselisih pendapat jumlah tunjangan Umar r.a, sedangkan Ali r.a hanya berdiam diri. Umar r.a bertanya kepadanya,“Bagaimanakah pendapatmu, wahai Ali?“ Jawab Ali r.a,“Ambillah uang sekedar dapat mencukupi keperluan keluargamu.“ Umar r.a sangat menyetujui usul Ali r.a. Maka ditentukanlah uang tunjangan untuk Umar r.a.

Beberapa lama kemudian, beberapa orang sahabat termasuk Ali, Ustman, Zubeir, dan Thalhah r.hum mengusulkan agar uang tunjangan Umar r.a ditambah karena terlalu sedikit. Tetapi tidak seorangpun yang berani mengemukakannya secara langsung kepada Umar r.a. Akhirnya, mereka menemui Hafshah r.ha, putri Umar r.a, juga Ummul-Mukminin istri Rasulullah saw. Mereka meminta agar ia mengajukan usul tersebut kepada Umar r.a tanpa menyebutkan nama nama mereka. Ketika Hafshah r.ha mengajukan usul tersebut, wajah Umar r.a langsung memerah karena marah. Umar r.a bertanya,“ Siapakah yang mengusulkan ini?“ Sahut Hafshah r.ha,“Jawablah dulu bagaimana pendapatmu.“ Umar r.a berkata,“Andaikan aku tahu siapa mereka, niscaya akan aku ubah muka mereka(akan memberikan hukuman yang membekas di wajah). Hafshah r.ha, ceritakanlah kepadaku tentang pakaian Nabi saw yang terbaik, yang pernah beliau miliki di rumahnya?“ Jawab Hafshah r,ha,“Beliau memiliki dua pakaian berwarna kemerahan yang biasa beliau kenakan pada hari Jum’at atau ketika menemui tamu.“ Kata Umar r.a,“Sebutkanlah makanan terlezat, yang dimakan oleh Nabi saw di rumahmu.“ Jawab Hafshah r.ha,“Roti yang terbuat dari tepung kasar lalu dicelupkan didalam kaleng berisi minyak. Kami memakannya ketika masih panas, kemudian dimakan dalam beberapa lipatan. Pernah pada suatu hari saya menyapu sepotong roti dengan bekas bekas minyak samin yang terdapat dalam kaleng minyak yang hampir kosong. Beliau SAW memakannya dengan penuh kenikmatan dan beliau juga ingin membagi bagikannya kepada orang lain.“ Umar r.a berkata,“Sebutkan, apa alas tidur terbaik yang pernah digunakan oleh Rasulullah SAW di rumahmu?“ Hafshah r.ha menjawab,“Sehelai kain tebal. Pada musim panas, kain itu dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua, separuh digunakan untuk alas tidurnya dan separuhnya lagi untuk selimutnya.“ Umar r.a berkata,“Nah Hafshah, sekarang pergilah dan katakan kepada mereka bahwa Nabi SAW telah menunjukan contoh kehidupan yang terbaik dan mencukupkan diri dengan mengharapkan akherat dan aku harus mengikutinya. Perumpamaanku dengan dua orang sahabatku, yaitu Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a adalah seperti tiga orang musafir yang sedang melalui sebuah jalan yang sama. Musafir yang pertama telah melalui jalan tadi dan telah sampai ketujuan. Demikian juda musafir yang kedua, ia telah mengikuti jalan orang yang pertama, sehingga ia pun telah sampai ketempat tujuan dan yang ketiga, sekarang ia baru memulai perjalanannya. Jika ia menempuh jalan yang telah ditempuh orang orang sebelumnya, maka ia akan menjumpai keduanya ditujuan yang sama. Jika ia tidak menempuh jalan orang orang yang mendahuluinya, tentu ia tidak akan sampai ke tempat mereka.“

Faedah

Inilah contoh kehidupan seseorang yang sangat ditakuti para raja itu, namun ia menjalani kehidupannya dengan zuhud. Pada suatu hari, ia berkhutbah didepan para sahabatnya dengan mengenakan kain sarung dengan dua belas tambalan, salah satunya ditambal dengan kulit. Suatu ketika, ia terlambat datang ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Ia berkata kepada jemaah,“Maafkan, aku terlambat karena harus mencuci pakaianku terlebih dahulu, aku tidak memiliki baju lain untuk dipakai.“(Asyar).
Juga pernah terjadi, pada suatu ketika Umar r.a sedang menikmati makanannya. Lalu datanglah pelayannya memberitahu bahwa Utbah bin Abi farqah ingin menemuinya. Setelah Umar r.a mengizinkan Utbah masuk, ia mengajak Utbah makan bersama.Utbah pun menerima tawaran itu. Tetapi roti yang dihidangkan adalah roti yang keras dan kasar sehingga ia kesulitan untuk menelannya. Ia bertanya,“Mengapa engkau tidak menggunakan tepung halus untuk roti?“ Jawab Umar r.a,“Apakah semua orang islam mampu memakan roti dari tepung halus?“ Sahut Utbah,“Tidak semua.“ Sahut Umar r.a,“Tampaknya kamu ingin agar aku menikmati semua jenis kenikmatan hidup di dunia ini.“(Usudul-Ghabah).

Kisah kisah seperti ini bukan hanya berjumlah ratusan atau ribuan, tetapi ratusan ribu kisah yang menunjukan pengorbanan dan perjalanan hidup para sahabat r.a. Sekarang kita tidak dapat meniru kehidupan mereka karena kelemahan kita, kita tidak mampu menanggung kesusahan dalam menjalani kehidupan seperti mereka. Karena itu pulalah para ahli sufi tidak mengizinkan bermujahadah seperti itu karena hal itu dapat melemahkan kita. Dari awalnya kita memang tidak berdaya, sedangkan mereka telah memiliki kekuatan untuk menjalani kehidupan seperti itu sejak awal. Yang sangat penting bagi diri kita adalah agar selalu memiliki semangat dan cita cita serta usaha untuk dapat mengikuti langkah mereka sehingga dapat meredam keinginan dunia kita dan pandangan kita pun semakin menunduk kebawah.

Pada zaman ini sangatlah penting menjaga keseimbangan ketika orang orang tengah disibukan dengan kenikmatan duniawi, sehingga timbil persaingan untuk mendapatkan harta. Pandangan mereka hanya tertuju pada kebendaan, mereka merasa rugi jika ada orang lain yang lebih kaya dari mereka.

Abu Bakar r.a adalah seorang pedagang kain dan ia hidup dengan dagangannya itu. Sehari setelah dilantik menjadi khalifah, dengan membawa beberapa helai kaindi tangannya, ia berjalan menuju pasar untuk berjualan seperti biasanya. Ditengah jalan ia berjumpa dengan Umar r.a. Umar r.a bertanya,“Mau kemana Engkau?“ Jawab Abu Bakar r.a,“Mau ke pasar“ Sahut Umar r.a,“Jika engkau sibuk berdagang, lalu siapakah yang akan menjalankan tugas kekhalifahan?“ Jawab Abu Bakar r.a,“Lalu bagaimana aku harus membiayai keluargaku?“ Umar r.a berkata,“Mari kita menjumpai Abu Ubaidah (yang dijuluki penjaga amanah oleh Rasulullah SAW) agar ia menentukan uang gajimu.“ Keduanya pun menjumpai Abu Ubaidah r.a dan ditetapkan tunjangan Abu Bakar r.a yang jumlahnya sama dengan tunjuangan seorang Muhajirin lainnya, tidak kurang dan tidak lebih dari itu.

Suatu hari, istrinya berkata kepada Abu Bakar r.a,“Aku ingin makan sedikit manisan.“ Jawab Abu Bakar r.a,“Aku tidak memiliki uang untuk membelinya.“ Kata istrinya,“Jika engkau mau, izinkan akan ku hemat uang belanja sehari hari agar dapat membeli manisan itu.“ Abu Bakar r.a pun menyetujuinya. Maka istri Abu Bakar r.a menabung sedikit demi sedikit uang belanjanya setiap hari. Beberapa hari kemudian, uang itupun terkumpul untuk membeli makanan yang diinginkan istrinya. Setelah terkumpul, istrinya menyerahkan uang itu kepada suaminya untuk dibelikan bahan makanan tersebut. Namun Abu Bakar r.a berkata,“Tampaknya dari pengalaman ini, uang tunjangan kita dari Baitul-Mal telah melebihi keperluan kita.“ Lalu Abu Bakar r.a mengembalikan uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul-Mal. Dan sejak hati itu, uang tunjangan Abu Bakar r.a dikurangi sejumlah uang yang dapat dihemat oleh istrinya.

Faedah :

Meskipun seorang khalifah dan tokoh masyarakat, Abu Bakar r.a tetap ingin berdagang. Dengan pekerjaan itu, ia berharap dapat mencukupi keperluan keluarganya, sebagaimana yang telah ia umumkan ketika ia diangkat menjadi khalifah. Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah r.ha, ketika Abu Bakar r.a dilantik menjadi khalifah. Ia berkata kepada orang orang,“Wahai kaumku kalian telah mengetahui aku mencari nafkah dengan bergadang, keuntungan ku telah mencukupi keperluan keluargaku. Tetapi sekarang aku telah disibukan dengan urusan kaum Muslimin, sehingga untuk keperkuanku dan keluargaku terpaksa dipenuhi dari Baitul-Mal.“

Walaupun demikian, ketika Abu Bakar r.a akan  meninggal dunia, ia berwasiat kepada Aisyah r.ha, agar mengmbalikan seluruh uang tunjangan yang telah dikeluarkan dari aBaitul-Mal untuk keperluan dari keluarganya selama menjadi khalifah dan menyerahkannya kepada khalifah selanjutnya. Anas r.a meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar r.a meninggal dunia, ia tidak meninggalkan apapun, baik dinar atau dirham. Ia hanya meninggalkan seekor unta betina untuk diambil susunya, sebuah mangkuk dan seorang. Shahahat lainnya berkata,“ Ia telah meninggalkan sehelai selimut dan sehelai kain alas. Benda benda itu telah diserahkan kepada Umar ketika ia menggantikannya sebagai khalifah.“ Kata Umar r.a,“ Semoga Allah mencucuri rahmat kepada Abu Bakar, ia telah menujukan jalan yang sulit diikuti oleh para pengikutnya.“ (Fath)

Kadangkala Umar bin Khathab r.a memegang sebatang kayu dan berkata,“Seandainya aku menjadi batang kayu ini.“ Terkadang ia berkata,“Seandainya ibuku tidak melahirkanku.“ Suatu ketika, saat ia sibuk dengan pekerjaannya, seseorang mendatanginya dan berkata,“Si fulan telah. Menzhalimiku. Engkau hendaknya menuntut balas untukku.“ Umar bin Khathab r.a segera mengambil sebatang cambuk dan memukul orang itu sambil berkata,“Ketika kusediakan waktu untukmu, kamu tidak datang, sekarang aku sedang sibuk dengan urusan lain, kamu datang dan memintaku untuk menuntut balas.“ Orang itu pun pergi. Lalu Umar bin Khathab r.a menyuruh kembali orang tersebut. Setelah datang, Umar bin Khathab r.a memberikan cambuk kepadanya dan berkata,“Balaslah aku.“ Jawab orang itu,“Aku telah memaafkanmu karena Allah.“ Umar bin Khathab r.a segera pulang kerumahnya dan mengerjakan shalat dua rakaat. Lalu ia berbicara kepada dirinya sendiri,“Hai Umar, dahulu kamu rendah, sekarang Allah meninggikan derajatmu. Dahulu kamu sesat, lalu Allah memberimu hidayah. Dahulu kamu hina, lalu Allah memuliakanmu, dan Dia telah menjadikanmu sebagai raja bagi manusia. Sekarang telah datang seorang laki laki yang mengadukan nasibnya dan berkata,“Aku telah dizhalimi, balaskanlah untukku, tetapi kamu telah memukulnya. Kelak pada hari kiamat, apa jawabanmu dihadapaan Rabbmu?“ Lama sekali Umar bin Khathab r.a menghukumi dirinya senditi. (Usudul-Ghabah).

Pelayan Umar bin Khathab r.a, Aslam r.a, berkata,“Suatu ketika Umar pergi ke Harrah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu terlihat nyala api di atas gunung. Umar bin Khathab r.a berkata,“Itu mungkin kafilah yang kemalaman yang tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu diluar kota. Marilah kita lihat keadaan mereka, bagaimana penjagaan malamnya!“ Setibanya disana, tampak seorang wanita dengan beberapa anak kecil menangis di sekelilingnya. Wanita itu sedang merebus air dalam kuali diatas tungku yang menyala. Umar bin Khathab r.a memberi salam kepada wanita tersebut dan meminta izin untuk mendekat. Ia bertanya,”mengapa anak-anak itu menangis?” Jawab wanita itu, “Mereka kelaparan” Umar bin Khathab r.a bertanya,“ Apa yang  sedang engkau masak dalam panci itu? Jawabnya,”Panci ini berisi air, hanya untuk menghibur anak-anak agar mereka senang dengan menyangka aku sedang memasak makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga Allah menghukum Amirul Mukminin Umar yang tak mau tahu kesusahan ini.” Umar bin Khathab r.a menangis dan berkata,“Semoga Allah merahmatimu, tetapi bagaimana mungkin Umar mengetahui keadaanmu?” Jawabnya,”Dia pemimpin kami, tetapi tidakmemperhatikan keadaan kami.”

Aslam r.a melanjutkan ceritanya,” Lalu Umar r.a mengajakku kembali ke Madinah. Ia pun mengeluarkan gandum, kurma, minyak lemak, dan beberapa helai pakaian, juga beberpa dirham dari Baitul-Mal. Setelah karung penuh, ia berkata keadaku,“Wahai Aslam letakan karung ini dipundakku.“ Aku menjawab,“Biarkan aku yang membawanya, ya Amirul Mukminin.“ Sahut Umar bin Khathab r.a,“Tidak, letakan saja di pundakku/“ Dua tiga kali aku menawarkan diri dengan sedikit memaksa. Ia berkata ,“Apakah kamu akan memikul dosa-dosa ku pada hari kiamat? Tidak, aku sendiri yang akan memikulnya dan yang bertanggung jawab terhadap hal ini.“ Aku pun terpaksa meletakkan karung itu kebahunya. Lalu ia bawa karung tadi ke kemah tadi dan aku ikut bersamanya. Setibanya disana, ia langsung memasukkan tepung dan sedikit lemak, ditambah kurma lalu diaduk, dan ia sendiri yang menyalakan tungkunya.“

Aslam r.a bercerita,“Kulihat asap mengenai janggutnya yang lebat, ia memasak sampai matang. Lalu, ia sendiri yang menghidangkan makanan itu dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Selesai makan, anak-anak itu bermain dengan riangnya. Wanita itu pun sangat senang, ia berkata,“Semoga Allah memberimu balasan yang baik, seharusnya engkau lebih berhak menjadi khalifah daripada Umar.“ Untuk menyenangkan hati ibu tadi, Umar bin Khathab r.a berkata,“Jika engkau menjumpai khalifah, engkau akan menjumpaiku disana.“ Kemudian Umar bin Khathab r.a. meletakkan kedua tangannya dibawah dan duduk diatas tanah. Beberapa saat kemudian ia meninggalkan mereka. Umar bin Khathab r.a berkata kepada Aslam r.a.“Aku tadi duduk disitu karena aku telah melihat mereka menangis dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa.“(Asyaru Masyahir).

Dalam shalat shalat shubuhnya, Umar bin Khathab r.a selalu membaca surat-surat Al-Quran yang panjang. Kadangkala ia membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat lainnya sambil menangis terisak isak, sehingga suara tangisnya terdengar hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika, Umar r.a membaca surat Yusuf dalam shalat shubuhnya. Ketika itu sampai di ayat, yang artinya :
“Ya’qub menjawab, sesungguhnya hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf :  86).
Ia menangis terisak isak sampai tidak terdengar suaranya. Terkadang ia terus membaca Al-Quran sambil menangis didalam shalat tahajjudnya hingga terjatuh sakit.

Faedah :
Inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah, yang namanya sangat ditakuti raja raja. Setelah 1300 tahun berlalu, adakah hari ini seorang raja, pejabat, atau pemimpin biasa yang memiliki tanggung jawab dan kasih saying terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti Umar bin Khathab r.a.?

Sesuai kesepakatan ahli sunnah, Abu Bakar r.a adalah seorang yang paling utama diantara seluruh manusia di dunia ini selain Anbiya a.s. Keyakinannya demikian tinggi, sehingga Rasulullah SAW sendiri telah memberi kabar gembira bahwa ia akan menjadi pemimpin satu jemaah di surga kelak. Semua pintu surga akan memanggil namanya dan menyampaikan kabar gembira kepadanya. Nabi SAW bersabda,”Orang yang paling dahulu masuk surga dikalangan ummatku adalah Abu Bakar r.a.” Walaupun demikian, Abu Bakar r.a justru berkata,”Seandainya aku menjadi sebatang pohon yang akhirnya ditebang.” Ia juga berkata,”Seandainya aku menjadi rumput yang dimakan hewan.” Kadangkala ia berkata,” Seandainya aku hanya menjadi rambut seorang mukmin.” Suatu ketika, ia pernah berada di dalam sebuah taman, sedangkan didekatnya ada seekor hewan yang sedang duduk. Sambil menarik nafas dingin, Abu Bakar r.a berkata,”Wahai, alangkah nikmatnya hidupmu, kamu makan, minum dan berkeliaran dibawah pepohonan, tetapi di akherat tidak ada hisab bagimu. Andaikan Abu Bakar menjadi sepertimu.” (Tharikhul-Khulafa).

Rabi’ah Aslami r.a bercerita,”Suatu ketika, pernah terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Abu Bakar. Ia telah berbicara kata kata kasar kepadaku, tetapi aku diamkan saja. Ketika ia menyadari kesalahannya, ia berkata kepadaku,“Ucapkanlah kata kata kasar kepadaku, sehingga menjadi balasan bagiku.“ Namun aku menolaknya. Ia berkata,“Kamu harus mengucapkannya. Jika tidak, akan kuadukan kepada Rasulullah SAW.“ Aku tetap tidak menjawab apapun. Lalu ia bangun dan pergi meninggalkanku. Ketika itu, beberapa orang Banu Aslam yang menyaksikan kejadian tersebut berkata.“Orang ini aneh sekali, ia sendiri yang memulai dan ia sendiri yang mengadukannya kepada Rasulullah SAW.“ Kataku.“Tahukah kamu siapa dia? Dialah Abu Bakar r.a. Jika ia marah, Rasulullah SAW kekasih Allah, tentu ia akan marah kepada ku dan murka beliau adalah murka Allah. Jika demikian, siapakah yang dapat menyelamatkan kehancuran Rabi’ah?“ Lalu aku pergi menemui Nabi SAW dan menceritakan kejadian tersebut. Sabda beliau,“Baik, benar kamu tidak membalas dan tidak menjawabnya, tatapi sebaiknya kamu berkata, : Semoga Allah memaafkanmu wahai Abu Bakar.“

Faedah :
Inilah keteladanan rasa takut kepada Allah. Hanya karena sepotong kalimat yang sepele, Abu Bakar r.a demikian takut akan balasannya di akherat. Ia sangat cemas dan khawatir sehingga ia sendiri yang minta dibalas, lalu mengadukannya kepada Nabi SAW agar Rabi’ah r.a membalas perbuatannya.
Pada hari ini, kita mudah untuk saling mencaci tanpa rasa khawatir sedikitpun akan balasan perbuatan kita kelak di akherat atau hari Hisab.

Khabab bin Al-Arat r.a adalah seorang sahabat yang tubuhnya dipenuhi keberkahan, karena berbagai ujian dan penderitaan di jalan Allah yang telah ia alami. Pada masa awal Islam, ia masuk Islam ketika baru ada lima hingga enam orang yang menerima Islam, sehingga cukup lama ia bergelut dengan penderitaan. Ia pernah dipakaikan baju besi lalu di baringkan di bawah terik matahari yang sangat panas. Keringat bercucuran dari tubuhnya. Begitu lama ia disiksa di bawah terik matahari, sehingga daging punggungnya mengelupas karena panas. Ia adalah hamba sahaya milik seorang wanita. Ketika tuannya mengetahui bahwa ia sering menjumpai Rasulullah saw. maka tuannya menghukumnya dengan menusukan batang besi panas ke kepala Khabab bin Al-Arat r.a

Pada masa khalifah Umar bin Khaththab r.a , Umar r.a meminta Khabab bin Al-Arat r.a menceritakan kembali penderitaannya dahulu pada awal Islam. Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Lihatlah punggungku ini.“ Begitu Umar r.a melihat punggungnya, ia berseru, “Belum pernah kulihat punggung seperti ini.“ Khabab bin Al-Arat r.a berkata, “Aku diseret diatas timbunan bara api yang menyala sehingga lemak dan darah yang mengalir dari punggung ku memadamkan apinya.“

Setelah Islam jaya dan pintu pintu kemenangan telah banyak diraih, Khabab bin Al-Arat r.a menangis, “ Jangan jangan Allah telah membalas penderitaan kita. Aku khawatir balasan ini hanya di dunia.“ Khabab bin Al-Arat r.a meriwayatkan “Suatu ketika, Nabi saw. shalat lama sekali, tidak seperti biasanya. Lalu ada seorang sahaba yang bertanya tentang shalatnya itu. Jawab Nabi saw. “Ini adalah shalat yang penuh harap dan takut. Aku mengajukan tiga permintaan kepada Allah. Dua telah dikabulkan dan satunya ditolak. Aku memohon agar umatku tidak di musnahkan karena kelaparan, doa ini dikabulkan. Kedua aku meminta agar umatku tidak di kuasai oleh musuh yang akan menghancurkan sama sekali, dan doa inipun dikabulkan_Nya. Yang ketiga, aku meminta agar tidak ada pertikaian di antara umatku, tetapi doa ini tidak dikabulkan-Nya.“

Khabab bin Al-Arat r.a wafat pada usia 37 tahun. Ia adalah sahabat yang pertama kali dikuburkan di Kuffah. Setelah wafatnya, Ali .r.a . pernah melewati kuburnya dan berkata, “Semoga Allah merahmati Khabab. Dengan semangatnya, ia telah memeluk Islam dan ia rela menghabiskan waktunya untuk hijrah, jihad, dan menerima segala penderitaan serta musibah. Penuh berkahlah orang yang selalu mengingat hari kiamat dan selalu bersiap siap menerima kitab amalnya pada hari hisab, dan ia menjalani kehidupan ini dengan menerima apa adanya, dan ia membuat ridha Allah.”

Dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi Al Hafizh dari Al-Hasan bin Ali ra., dia berkata, “Aku Pernah bertanya kepada pamanku Hindun bin Abu Halah, yang pandai menggambarkan sifat-sifat perilaku Rasulullah SAW, sementara aku menginginkan dia menggambarkan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW kepadaku agar dapat kujadikan pedoman, maka dia berkata, ”Rasulullah SAW itu seorang yang mulia yang senantiasa dimuliakan, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama yang bercahaya, perawakan beliau sedang, tidak terialu pendek, dan tidak terlalu tinggi. Rambut beliau berombak, menyentuh daun telinga dan lebat. Warna kulitnya terang, keningnya lebar, alisnya tipis dan memanjang. Jika sedang marah, diantara alisnya tampak urat. Hidungnya mancung, ada cahaya di bagian atasnya, yang tampak mancung di mata orang yang tidak memperhatikannya. Janggutnya lebat, bagian bola hitam matanya tampak hitam, kedua pipinya lembut, giginya putih dan bagus, ada bulu-bulu halus di dadanya, badannya kekar dan kokoh, permukaan perut dan dadanya datar. Dadanya bidang, jarak antara kedua bahunya lebar, sendi-sendi tulangnya besar, kulitnya bersih. Antara dada sampai ke pusar ditumbuhi bulu bulu yang membentuk garis. Di antara puting susu dan perut tidak ditumbuhi rambut. Lengan, bahu dan dadanya bagian atas ditumbuhi bulu bulu yang halus. Jarinya kuat, lengannya panjang, telapak kaki dan tangannya lebar, ujung jarinya panjang. Bagian tengah telapak kakinya berongga dan tidak menyentuh tanah saat berjalan, kedua telapak kakinya menjadi ringan ibarat air yang turun kebawah. Beliau mengayunkan kaki sambil menunduk jalannya agak cepat. Jika berjalan seolah olah sedang berjalan di jalan yang menurun. Jika menoleh, beliau menoleh dengan seluruh anggota badannya. Pandangan matanya menunduk ke bawah, lebih lama memandang ke tanah daripada langit, pandangannya bersungguh sungguh jika memperhatikan sesuatu. Beliau selalu mendahului mengucapkan salam ketika berpapasan dengan para sahabat, sebelum para sahabat mengucapkan salam.”

Aku(Al-Hasan) berkata, “Beritahukanlah kepadaku sifat beliau saat berbicara.“ Maka dia (Hindun bin Abu Halah) menjawab, “ Rasulullah SAW   senantiasa risau, selalu berpikir, sehingga tidak ada waktu untuk beristitrahat, tidak berkata apapun jika dibutuhkan. Beliau lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri setiap perkataan dengan mulut beliau bagian tepi, berbicara dengan kata kata yang luas maknanya, perkataan tersusun, tidak dilebihkan lebihkan atau dikurangi, lembut budi pekertinya, tidak tinggi hati dan juga tidak rendah, senantiasa bersyukur walaupun mendapat nikmat yang sedikit dan tidak mencela nikmat itu, juga tidak memujinya, tidak melayani amarahnya. Jika tampak kebenaran walau hanya sedikit, beliau pasti akan menolongnya (dalam riwayat lain, tidak bisa dibuat marah hanya karena dunia dan untuk kepentinga Islam). Jika tampak kebenaran dan seorang pun tidak ada yang mengetahui serta tidak memancing amaah beliau, maka beliau pasti akan menolongnya. Beliau tidak mengutamakan kepentingan dirinya dan tidak pula mendukungnya. Jia memberi isyarat, beliau memberikankannya denga sejelas jelasnya. Jika sedang kagum, beliau membalik telapak tangannya. Jika sedang bersungguh sungguh dalam berbicara, beliau biasa memukulkan telapak tangannya yang kanan ke ibu jari tangan kirinya. Jika marah, beliau berpaling dengan sungguh sungguh (menghindarinya). Jika gembira, beliau tersenyum dengan ujung bibirnya. Tertawa beliau adalah senyuman. Senyuman beliau seperti embun yang dingin.“

Al-Hasan berkata, “Aku tidak memberitahukan semua ini kepada Al-Husein bin Ali (saudaranya) sehingga beberapa lama. Baru kemudian aku memberitahukan kepadanya, tetapi rupa rupanya ia telah mengetahuinya lebih dulu dari aku. Dia lebih dulu menanyakan kepada paman tentang apa yang aku tanyakan. Bahkan dia juga bertanya kepada ayah tentang keluar masuknya Rasulullah SAW. di majelis dan keadaan beliau secara keseluruhan, hingga tida ada sedikitpun yang tertinggal.“

Al-Hasan berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang cara masuknya Rasulullah SAW kedalam rumah. Maka Ayah menjawab,“beliau masuk rumah setelah mendapat izin untuk memasukinya. Jika menuju kerumah, beliau membagi waktu masuknya itu menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk Allah swt, satu bagian untuk keluarga beliau dan satu bagian untuk beliau sendiri. Kemudian beliau juga membagi waktu untuk dirinya, yakni keperluan dirinya dan keperluan manusia (ummat). Beliau lebih mementingkan bagian ini untuk kepentingan manusia secara umum dan khusus dan semua kepentingan mereka tidak ada sedikitpun yang terabaikan. Diantara kebiasaan beliau adalah lebih mementingkan waktunya untuk ummat. Beliau mengutamakan orang orang yang mulia karena budi pekertinya dan disesuaikan dengan bagiannya tergantung pada kadar kemuliaannya dalam agama. Diantara mereka ada yang memiliki satu keperluan, yang lain lagi dua keperluan dan yang lain lagi banyak keperluan. Karena beliau menyibukan diri dengan urusan mereka, dan beliau membuat sibuk dalam urusan yang bermaslahat bagi diri mereka dan bagi ummat manusia. Beliau biasa menanyakan keadaaan mereka dan mengabarkan tentang mereka dan mengabarkan tentang apa  yang seharusnya mereka lakukan dengan bersabda, “Hendaklah yang hadir memberitahu yang tidak hadir dan sampaikanlah keperluan orang yang tidak menyampaikan kepada ku. Sesungguhnya orang yang menyampaikannya kepada pemimpinnya keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya, Allah swt. Akan meneguhkan kedua kaki oran tersebut pada hari kiamat yang tidak akan ada kesengsaraan di sisi-Nya dan tidak diterima sesuatupun dari selain-Nya. Mereka bisa menemuinya sebagai orang yang sedang berkunjung dan tidak terpecah belah kecuali kaena bisikan hati. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa mereka tidak terpencar pencar kecuali karena adanya bisikan hati, kemudian mereka keluar sebagai orang yang mengerti.“

Al-Hasan berkata,“Aku bertanya kepada paman tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW  ketika keluar rumah maka dia menjawab,“ Rasulullah SAW biasa menahan lidahnya kecuali terhadap perkataan yang dapat memberi manfaat kepada mereka, menyatukan mereka dan tidak membuat mereka pergi menghindar. Beliau menghormati orang yang dihormati di setiap kaum dan mengangkatnya sebagai pemimpin mereka, memperingatkan manusia, menjaga keadaan mereka, menunjukan wajah yang ramah terhadap siapapun, selalu menanyakan keadaan para sahabatnya, bertanya kepada para sahabatnya tentang keadaaan yang terjadi ditengah tengah mereka, mengatakan bagus terhadap yang bagus, mengatakan buruk terhadap sesuatu yang buruk dan berusaha memperbaikinya, mencari penyelesaian dalam setiap urusan, dan tidak malas dan tida lalai, karena takut para sahahat ikut ikutan lalai dan menyimpang. Setiap keadaaan harus di letakan di tempatnya, tidak pernah meremehkan dan berlebih-lebihan. Orang orang yang mengkuti beliau adalah orang orang yang baik diantara manusia. Menurut beliau, yang paling mulia adalah yang paling luas nasehatnya. Yang paling tinggi kedudukannya disisi beliau adalah orang yang paling baik pertolongan (nushroh) dan bantuan (ikhrom).“

Lalu aku berkata,“ Lalu aku bertanya kepada paman tentang gambaran majelis Rasulullah SAW“ maka dia menjawab, “ Rasulullah SAW tidak duduk dan berdiri, melainkan dalam keadaan berdzikir, tidak memilih tempat tempat tertentu dan melarang orang lain menempatinya. Jika berkumpul dengan para sahabatnya, beliau duduk di bagian akhir dari majelis itu, dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berbuat seperti itu. Beliau memberikan kepada teman duduknya apa yang menjadi bagiannya. Sehingga orang orang tidak ada yang menganggap bahwa tidak ada yang terhormat bagi beliau. Beliau tidak pernah menolak orang yang meminta keperluan atau kalau beliau tidak dapat menunaikannya, beliau akan mengatakan tidak dapat menunaikannya. Orang orang merasakan betapa mulianya akhlak beliau dan beliau sangat ramah terhadap mereka, sehingga beliau menjadi bapak bagi mereka, dan mereka memperoleh hak yang sama di sisi beliau. Majelis beliau adalah majelis yang penuh kasih sayang, rasa malu, sabar dan amanah. Didalamnya tidak ada suara yang keras, yang haram tidak dicela, tida ada aib yang disebar luaskan, selalu ada pertimbangan antara dua permasalahan. Mereka saling berlomba untuk bertakwa dan bertawadhu’. Yang tua dihormati dan yang muda disayangi. Orang yang memiliki keperluan dilayani dan orang asing dijaga.“

Al-Hasan berkata,“Kemudian aku bertanya kepada paman tentang kebiasaan Rasulullah SAW ketika berada ditengah tengah para sahabat. Maka dia menjawab,“ Wajah Rasulullah SAW senantiasa tampak berseri, luwes, lemah lembut, tidak kasar, tidak keras, tidak bersuara lantang, tidak kejam, tidak suka mencaci maki, tidak banyak bercanda, melupakan apa yang menjadi minatnya, tidak membuat orang yang mempunyai keperluan terhadap beliau putus asa untuk mendapatkan bagiannya dan tidak membuatnya kecewa karena takut ditelantarkan. Jika berada di majelis beliau, maka orang orang melihat tiga perkara, yaitu beliau tidak menghina siapapun, tidak mencari cari kesalahan siapapun dan tidak mengucapkan perkataan kecuali yang mendatangkan keberkahan (pahala). Jika beliau berbicara para sahabat pun menunduk (tawajjuh), seakan akan diatas mereka ada seekor burung yang hinggap. Jika beliau diam, para sahabat pun diam, kecuali jika diminta beliau untuk berbicara, sehingga para sahabat tidak pernah saling berdebat dihadapan beliau. Beliau tersenyum ketika melihat sesuatu membuat para sahabat tersenyum, dan mengagumi sesuatu yang membuat mereka kagum. Beliau bersabar menghadapi orang asing yang berkata kasar terhadap beliau dan banyak meminta, walaupun para sahabat tidak sabar mendengar kata kata oran asing itu. Karena itu beliau bersabda,“ Jika kalian melihat seseorang yang memunyai keperluan, maka tolonglah ia.“ Beliau tidak suka menerima pujian dari siapapun, kecuali yang sewajarnya. Beliau tidak penah memotong perkataan orang lain hingga orang tiu memotong sendiri perkataannya dan beranjak pergi.“

Al-Hasan berkata, “Aku bertanya lagi kepada paman tentang diamnya Rasulullah SAW.“ maka paman menjawab,“ Diamnya Rasulullah SAW disebabkan oleh empat perkara, yaitu diam karena bersikap sopan santun, waspada, mempertimbangkan sesuatu, dan berfikir. Diam beliau intuk mempertimbangkan sesuatu adalah mempertemukan jalan keluar dari permasalahan dan mendengarkan apa yang terjadi ditengah tengah manusia. Diam beliau untuk berfikir adalah untuk memikirkan hal hal yang kekal dan sementara. Dalam diri beliau tertanam keramahan dan kesabaran, sehingga beliau tidak akan mudah marah karena suatu hal dan tidak ada yang beliau takuti (kecuali Allah SWT.) Yang dimaksud beliau memiliki kewaspadaan adalah bahwa beliau berwaspada denga cara yang baik dan melaksanakannya untuk kepentingan manusia dunia dan akherat.“

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan didalam Al-Ishabah:10/161-162, bahwa pernyataan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh At Tirmidzi, Al Baghawi, dan Ath Thabrani, Ibnu Mandah mengeluarkannya dari jalan Ya’kub At Taimi dari Ibnu Abbas r.a., kemudian dia menyebutkan hadist diatas.

At-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan panjang lebar di dalam kita As-Syamail. Didalamnya dia menyebutkan hadist dari saudaranya, Al-Husein, dari Ayahnya, Ali bin Abi Thalib r.a. Al Baihaqi meriwayakan dalam Ad-Dalalail dai Al Hakim dengan isnadnya dari Al Hasan, kemudian dia menyebutkan sebagaimana yang disebutkan dalam Ibnu Katsir didalam kitab Al Bidayah : 1/137. Ar-Rauyani, Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir juga meriwatkan didalam kitab Kanzul Umal: 4/32, sedangkan Al Baghawi didalam Al-Ishabah:3/611.

Pada suatu ketika Munkadir rah.a (baca : rahmatullahi ‘alaih) dating kepada Aisyah r.ha untuk mengutarakan keperluannya yang sangat mendesak yakni untuk meminta bantuan dalam maslah keuangan.  Aisyah r.ha berkata “maaf, pada saat ini saya tidak mempunyai apa apa. Seandainya saya mempunyai sepuluh ribu dirham, semuanya tentu akan saya berikan kepadamu. Akan tetapi sekarang ini saya tidak mempunyai apa apa.” Kemudian Munkadir rah.a pulang tetapi tidak lama kemudian datinglah Khalid bin Asad r.hu(baca : rodhiallahu ‘anhu) memberi hadiah uang sebesar sepuluh ribu dinar atau dirham kepada Aisyah r,ha. Aisyah r.ha berkata “Saya sedang diuji dengan ucapan saya kepada Munkadir.” Kemudian ia segera mengirimkan seluruh uang yang di terimanya itu kepada Munkadir rah.a. Dengan uang seribu dirham pemberian Aisyah r.ha. itu, Munkadir rah.a membeli seorang hamba sahaya perempuan yang kemudian dinikahinya. Dari pernkahan itu ia mendapatkan 3 orang anak yakni Muhammad, Abu Bakar, dan Umar. Ketiga orang itu terkenal ke solehannyadi kota Madinah Munawaroh. (Tahdzbihut-Tahdzib).
Sudah barang tentu Aisyah r.ha mendapat bagian segala keutamaan dari keutamaan ketiga anak tersebut. Dialah penyebab  lahirnya ketiga anak itu. Kisah kedermawanan Aisyah r.ha banyak sekali di ceritakan, sebagaimana kisah kedermawanan ayahnya Abu Bakar r.hu. yang sangat terkena. Kami telah menceritakan sebuah kisah dalam kitab Hayatus Shahabah dimana ia telah membagikan  bagikan dua kantong penuh berisi uang, yang berjumlah lebih dari seratus ribu dirham untuk di bagi bagikan kepada fakir miskin tanpa meninggalkan satu dirham pun, padahal ia membutuhkannya untuk berbuka puasa. Kisah semacam ini juga terdapat dalam riwayat lain yang menyebutkan besarnya uang dalam kantong yang di berikan kepada akir miskin sebesar 180.000 dirham. Tamim bin Urwah .r.hu. berkata “ Pada suatu ketika saya melihat Aisyah r.ha, bibi ayah saya, membagi bagikan uang sebanyak 70.000 dirham, padahal saat itu ia mengenakan pakaian yang bertambal..” (Ithaf)

Ali r.a (baca : rodhiallahu ‘anhu) berkata kepada murid-muridnya, “ Maukah aku ceritakan kepada kalian mengenai Fathimah r.ha, putri Rasulullah SAW(baca : shalallahu 'alaihi wassallam) yang sangat beliau cintai?” Murid-muridnya berkata, “Tentu.” Ali r.a pun bercerita, “Dengan tangannya, Fathimah r.ha menggiling gandum sehingga timbul kapalan di tangannya. Ia mengisi tempatnya air sendiri dan bekasnya terlihat di dadanya. Ia juga menyapu seluruh bagian rumah sehingga bajunya kotor dan kumal. Suatu ketika, Rasulullah SAW mendapatkan beberapa hamba sahaya wanita. Aku berkata kepada Fathimah, "Pergilah kepada Rasulullah dan mintalah pembantu kepada beliau agar dapat meringankan pekerjaanmu.“ Fathimah r.ha. pun datang ke majelis Rasulullah SAW. Karena saat itu banyak orang, ia malu menyampaikan maksudnya. Akhirnya, ia kembali ke rumah. Keesokan harinya, Rasulullah SAW mengunjugi rumah kami dan berkata kepada Fathimah r.ha., “Wahai Fathimah, apakah maksudmu engkau kemarin datang kepadaku?“ Karena malu Fathimah r.ha diam saja. Aku berkata“ Ya Rasulullah, ia menggiling gandum setiap hari sehingga timbul kapalan ditangannya, dan ia mengisi air hingga berbekas di dadanya, ia juga selalu membersihkan rumah sehingga kumal dan kotor bajunya, maka kemarin aku suruh ia mendatangi engkau untuk meminta seorang pelayan, karena aku dengar ada beberapa hamba sahaya padamu.“

Dalam riwayat lain, Fathimah r.ha berkata kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, aku dan Ali hanya memiliki kasur dari kulit kambing. Pada malam hari kami gunakan untuk tidur dan pada siang hari kami gunakan untuk tempat rumput makanan unta.”
Rasulullah SAW bersabda, “ WAhai anakku, bersabarlah. Selama sepuluh tahun Musa a.s. (baca : 'alaihissalam) dan istrinya hanya tidur diatas satu alas tidur, yaitu hamparan mantel Musa a.s. Bertakwalah kepada Allah dan tetaplah menyempurkan kewajibanmu dan pekerjaan rumahmu. Ketika kamu berbaringtidur, bacalah : Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali, ini lebih baik daripada seorang pembantu.” Fathimah r.ha berkata, “Aku rela dengan keputusan Allah dan Rasul-Nya.“ (Abu Dawud)

Asma binti Yazid Anshari r.ha adalah seorang sahabiyah. Pada suatu ketika, ia mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, aku datang sebagai utusan kaum wanita. Sungguh, engkau adalah utusan Allah untuk kaum laki laki dan juga wanita. Untuk itu kami sebagai kaum wanita telah beriman kepada Allah dan kepadamu. Kami kaum wanita selalu tinggal di dalam rumah saja, tertutup dalam hijab hijab dan sibuk menunaikan keperluan serta keinginan suami. Kami selalu mengasuh anak anak, sedangkan kaum laki laki selalu mendapat pekerjaan yang memborong pahala. Mereka dapat menghadiri shalat jum’at, dapat berjamaah shalat lima waktu, dapat menjenguk orang sakit, menyertai jenazah, pergi haji, dan yang paling utama mereka dapat berjihad di jalan Allah. Jika mereka sedang mengerjakan haji, umrah,  atau jihad, kamilah yang menjaga harta mereka, menjahitkan baju mereka dan memelihara anak anak mereka. Maka, apakah kami tidak mendapatkan pahala yang sama dengan mereka?“

Rasulullah saw. Mendengarnya dengan penuh perhatian. Kemudian berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda. “ Pernahkan kalian mendengar sebuah pertanyaan agama yang lebih baik daripada pertanyaan wanita ini?” Para sahabat r.a berkata, “ Ya Rasulullah, bahkan kami tidak menduga bahwa kaum wanita akan dapat bertanya seperti itu.” Lalu beliau saw. Berpaling kembali kepada Asma r.ha dan bersabda, “Dengarlah dengan baik dan perhatian, lalu sampaikan kepada para wanita muslimah yang telah mengirimmu kesini. Apabila para istri selalu berbuat baik kepada suaminya, selalu mentaatinya, melayaninya dengan baik dan berusaha membuat suaminyaselalu bergembira, maka itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Jika semua itu dapat kalian kerjakan, kalian akan mendapatkan pahala yang sama dengan kaum laki laki.“ Mendengar jawaban Nabi saw. itu, hait Asma r.ha sangat bergembira. Kemudian ia segera kembali menjumpai kaumnya.

free counters

Translate Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Page on Facebook

Statistic

100 Blog Indonesia Terbaik Religion Blogs TopOfBlogs Top Blogs Powered by Stats 21 Yahoo bot last visit powered by  Ybotvisit.com
clock

ShoutMix chat widget